GURU DAN PERBUATAN MENGAJAR
A. Pengertian
Guru
Menurut Shambuan (1997) kosa kata “guru”
berasal dari kosa kata yang sama dalam bahasa India yang berarti “orang yang
mengajarkan tentang pelepasan dari sengsara.” Guru dalam bahasa Sangsekerta
diartikan seseorang yang dihormati, figur yang tidak memiliki cela dan tidak
boleh memiliki kesalahan.
Karena guru memegang peranan dalam
proses pembelajaran, di mana proses pembelajaran merupakan inti dari proses
pendidikan secara keseluruhan. Dalam proses pembelajaran mengandung serangkaian
perbuatan guru dan siswa. Perbuatan guru yang sangat penting adalah memahami
dan bisa melaksanakan strategi pembelajaran sesuai dengan materi yang ingin
disampaikan. agar sesuatu yang ingin dituju dapat tercapai lebih maksimal.
B. Peran
Guru
a.
Komunikator
Peran guru ini menyangkut proses penyampaian informasi
diantaranya baik kepada dirinya sendiri, kepada siswanya/peserta didik, kepada
atasan di lembaga sekolahnya, kepada orang tua murid maupun kepada masyarakat
pada umumnya. (KEPENDIDIKAN & NASIONAL. 2008)
Contohnya:
- Komunikasi pada diri sendiri menyangkut upaya introspeksi agar setiap langkah dan geraknya tidak mengalahi kode etik guru baik sebagai pendidik maupun sebagai pengajar.
- Komunikasi kepada anak didik merupakan peran yang sangat strategis, karena sepandai apapun seseorang manakala dia tidak mampu berkomunikasi dengan baik pada anak didiknya maka proses belajar mengajar akan kurang optimal.
- Komunikasi yang edukatif pada anak didik akan mampu menciptakan hubungan yang harmonis.
- adapun komunikasi kepada atasan, orang tua, dan masyarakat adalah sebagai pertanggungjawaban moral.
b.
Fasilitator
Guru hendaknya mampu mengusahakan sumber belajar yang
kiranya berguna serta dapat menunjang percapaian tujuan dan proses belajar
mengajar, baik yang berupa nara sumber, buku teks, majalah, ataupun surat
kabar. Guru juga harus mengetahui betul potensi anak didik. Karena berangkat
dari potensi itulah guru menyiapkan strategi PBM yang sinerjik dengan potensi
anak didik. Faktor „the how‟ memegang peranan penting dalam upaya mengembangkan
potensi anak didik, hal ini dimaksudkan untuk mempersiapkan diri menjadi
manusia seutuhnya yang akan mampu membangun dirinya dan masyarakat
lingkungannya. (KEPENDIDIKAN & NASIONAL. 2008)
Contohnya:
Bisa
menjawab jika ada kekeliruan dalam suatu materi, dan bisa menyediakan hal-hal
yang harus ada sesuai materi yang disampaikan.
c.
Mediator
Guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup
mengenai media pendidikan, karena media pendidikan merupakan alat komunikasi
guna lebih mengefektifkan proses belajar mengajar. Dengan demikian jelaslah
bahwa media pendidikan merupakan alat yang sangat diperlukan yang bersifat
melengkapi dan merupakan bagian integral demi berhasilnya proses pendidikan dan
pengajaran di sekolah.
Guru
tidak cukup hanya memiliki pengetahuan tentang media pendidikan, tetapi juga
harus memiliki keterampilan memilih dan menggunakan, serta mengusahakan media
itu dengan baik. Memilih dan menggunakan media pendidikan harus sesuai dengan
tujuan, materi, metoda, evaluasi, dan kemampuan guru serta minat dan kemampuan
siswa. Sebagai mediator guru juga menjadi perantara dalam hubungan antar
manusia. Untuk itu, guru harus terampil mempergunakan pengetahuan tentang
bagaimana orang berinteraksi dan berkomunikasi. (KEPENDIDIKAN & NASIONAL.
2008)
Contohnya
:
Ketika
ada pertanyaan guru dapat memberikan jawaban sesuai pertanyaan dengan bahasa
yang sebisa mungkin siswa mengerti.
d.
Motivator
Peran Guru dalam memotivator atau Membangun Kesadaran,
masalah, menarik kesimpulan, menuliskan, mengekspresikan apa yang diketahuinya,
ini akan membuat siswa menjadi seorang pembelajar yang luar biasa. Seperti yang
dirumuskan Ki Hajar Dewantoro peran guru dalam mendidik di sekolah sebagai
berikut ingngarso sung tulodo, di depan memberi teladan, ing madyo mangun
karso, di tengah membangun kreativitas dan tut wuri handayani, di belakang
memberi semangat. Hingga sekarang peran ini masih aktual dan menjadi dasar dari
semua peran yang dijalankan seorang guru dalam mendidik, bagaimana guru
berperan sebagai motivator dalam proses pembelajaran, dengan pendekatan/metode
apapun yang digunakan oleh guru.(Murwani. 2006)
Contohnya:
memberikan nasihat-nasihat pada kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan
pelajaran, seperti memberi penjelsasan mengenai pentingnya zat kimia.
e.
Evaluator
Guru sebaiknya dapat menjadi evaluator yang baik. Penilaian
dilakukan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai
atau tidak, apakah materi yang diajarkan sudah dikuasai atau belum oleh siswa,
dan apakah metode yang digunakan sudah cukup tepat. Penilaian perlu dilakukan,
karena melalui penilaian guru dapat mengetahui keberhasilan pencapaian tujuan,
penguasaan siswa terhadap pelajaran, serta ketepatan metode mengajar. Dengan
menelaah pencapaian tujuan mengajar, guru dapat mengetahui apakah proses
belajar mengajar yang dilakukan cukup efektif, cukup memberikan hasil yang baik
dan memuaskan, atau sebaliknya. Kiranya jelasl bahwa guru harus mampu dan
terampil dalam melaksanakan penilaian, karena dalam penilaian, guru dapat
mengetahui prestasi yang dicapai oleh siswa setelah ia mengikuti proses belajar
mengajar.
Contohnya
:
Di
akhir pembelajaran guru mengevaluasi serta memberikan penilaian yang objektif.
(KEPENDIDIKAN & NASIONAL. 2008)
C.
Permasalahan
Pembelajaran Kimia pada Guru dan Perbuatan Mengajar
Adapun
penyebab kesulitan tersebut adalah karakteristik dari materi pelajaran kimia
itu sendiri yang sebagian besar konsepnya bersifat abstrak (Ashadi,
2009).Selain itu, berdasarkan hasil penelitian Sholahuddin (dalam Ashadi, 2009)
pada umumnya siswa dalam memahami materi pelajaran kimia cenderung belajar dengan
hafalan.Hal ini menyebabkan sebagian besar konsep-konsep pelajaran kimia
menjadi konsep yang abstrakbagi siswa dan bahkan mereka tidak dapat mengenali
konsep-konsep kunci tau hubungan antarkonsep yang diperlukan untuk memahami
konsep tersebut, sehingga siswa tidak memiliki pemahaman konsep-konsep kimia
yang bersifat dasar pada awal mereka mempelajari ilmu kimia.
penyebab lainnya itu juga terletak pada guru karena guru
kurang bisa menjelaskan materi yang diajarkan. Di samping itu, guru kurang
memberikan contoh-contoh konkrit tentang reaksi-reaksi yang ada di lingkungan
sekitar dan sering dijumpai siswa. Oleh sebab itu, diperlukan suatu usaha untuk
mengoptimalkan pembelajaran kimia di kelas dengan menerapkan pendekatan dan
metode yang tepat. Itulah salah satu kendala yang dihadapi oleh guru.
Berkaitan
dengan belajar dan pembelajaran kimia yang ada pada saat ini, permasalahan yang
dihadapi oleh guru dikelompokkan menjadi dua yaitu permasalahan umum dan
permasalahan khusus.
1. Permasalahan
Umum
Permasalahan
umum merupakan permasalahan yang sering ditemukan oleh setiap guru dalam
melaksanakan proses belajar mengajar. Adapun yang termasuk permasalahan umum
dalam mengajarkan IPA/KIMIA antara lain:
a.
Menyiapkan Bahan Pelajaran
Guru
harus memikirkan bahan-bahan yang topiknya tertera dalam silabi berkaitan
dengan kebutuhan anak didik pada usia dan dalam lingkungan tertentu. Minat anak
didik akan bangkit bila suatu bahan diajarkan sesuai dengan kebutuhan anak
didik. Berkenaan dengan persiapan bahan ajar ini, secara umum masalah yang
dimaksud meliputi cara penentuan jenis materi, kedalaman, ruang lingkup, urutan
penyajian, perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran.
Masalah lain yang berkenaan dengan bahan ajar adalah memilih sumber di mana bahan ajar itu didapatkan. Ada kecenderungan sumber bahan ajar dititikberatkan pada buku.Padahal banyak sumber bahan ajar selain buku yang dapat digunakan.Buku pun tidak harus satu macam dan tidak harus sering berganti seperti terjadi selama ini.Berbagai buku dapat dipilih sebagai sumber bahan ajar. Termasuk masalah yang sering dihadapi guru berkenaan dengan bahan ajar adalah guru memberikan bahan ajar atau materi pembelajaran terlalu luas atau terlalu sedikit, terlalu mendalam atau terlalu dangkal, urutan penyajian yang tidak tepat, dan jenis materi bahan ajar yang tidak sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai oleh siswa.
Sehubungan dengan itu, perlu disusun rambu-rambu pemilihan dan pemanfaatan bahan ajar untuk membantu guru agar mampu memilih materi pembelajaran atau bahan ajar dan memanfaatkannya dengan tepat.Rambu-rambu dimaksud antara lain berisikan konsep dan prinsip pemilihan materi pembelajaran, penentuan cakupan, urutan, kriteria dan langkah-langkah pemilihan, perlakuan/pemanfaatan, serta sumber materi pembelajaran.
Masalah lain yang berkenaan dengan bahan ajar adalah memilih sumber di mana bahan ajar itu didapatkan. Ada kecenderungan sumber bahan ajar dititikberatkan pada buku.Padahal banyak sumber bahan ajar selain buku yang dapat digunakan.Buku pun tidak harus satu macam dan tidak harus sering berganti seperti terjadi selama ini.Berbagai buku dapat dipilih sebagai sumber bahan ajar. Termasuk masalah yang sering dihadapi guru berkenaan dengan bahan ajar adalah guru memberikan bahan ajar atau materi pembelajaran terlalu luas atau terlalu sedikit, terlalu mendalam atau terlalu dangkal, urutan penyajian yang tidak tepat, dan jenis materi bahan ajar yang tidak sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai oleh siswa.
Sehubungan dengan itu, perlu disusun rambu-rambu pemilihan dan pemanfaatan bahan ajar untuk membantu guru agar mampu memilih materi pembelajaran atau bahan ajar dan memanfaatkannya dengan tepat.Rambu-rambu dimaksud antara lain berisikan konsep dan prinsip pemilihan materi pembelajaran, penentuan cakupan, urutan, kriteria dan langkah-langkah pemilihan, perlakuan/pemanfaatan, serta sumber materi pembelajaran.
b. Metode
Mengajar
Dalam
kegiatan belajar mengajar, guru tidak harus terpaku dengan menggunakan satu
metode, tetapi guru sebaiknya menggunakan metode yang bervariasi agar jalannya
pengajaran tidak membosankan tetapi menarik perhatian anak didik.Solusi dari
permasalahan ini yaitu guru hendaknya lebih selektif terhadap penggunaan metode
pembelajaran.
c.
Kegiatan Mengajar
Guru
sebaiknya memperhatikan perbedaan individual anak didik, yaitu pada aspek
biologis, intelektual dan psikologis. Kerangka berfikir demikian dimaksudkan
agar guru mudah dalam melakukan pendekatan kepada setiap anak didik secara
individual.Setiap siswa didalam kelas memiliki karakter yang berbeda-beda pada
setiap individunya. Banyaknya perbedaan ini tentunya akan berpengaruh terhadap
kondisi siswa dalam belajar. Salah satu usaha agar pembelajaran tercapai dari
permasalahan ini adalah dengan pembentukan kelompok-kelompok belajar didalam
kelas. Hal ini bertujuan supaya tiap individu di dalam kelas menjadi subjek
utama dan dapat saling berinteraksi dengan semua individu sehingga merasa
belajar lebih nyaman.
2. Permasalahan
Khusus
Permasalahan
khusus dalam mengajarkan IPA atau materi Kimia adalah permasalahan-permasalahan
yang timbul saat mengajarkan IPA/KIMIA tetapi tidak semua guru mengalami
kesulitan tersebut.Adapun permasahan khusus dalam mengajarkan IPA/KIMIA adalah
sebagai berikut.
a.
Guru tidak siap mengajar
Dalam
hal ini berarti, guru kurang memahami konsep materi yang diajarkan.Sebelum
mengajar, guru sebaiknya menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan untuk
mengajar, mempersiapkan materi pelajaran dengan baik untuk diajarkan kepada
siswa. Kesiapan guru dalam mengajar diperlukan agar siswa memperoleh materi
dari guru secara runtut, dengan demikian siswa akan mudah menerima materi dari
guru dan mempelajarinya.
b. Guru
kesulitan dalam membangkitkan minat belajar siswa.
Solusi
dalam mengatasi masalah ini yaitu berawal dari minat guru sendiri. Guru harus
mampu membuat ide-ide kreatif yang menarik sehingga siswa menjadi tertarik dan
minat belajarnya meningkat kemampuan dan keterbatasan guru/ sekolah dalam
memberikan teori disebabkan alat-alat untuk mengadakan percobaan tidak lengkap.
c.
Sarana dan prasarana yang mendukung terciptanya suasana yang kondusif di dalam
belajar akan mempengaruhi proses belajar siswa.
Prasarana
pembelajaran meliputi sarana olahraga, gedung sekolah ruang belajar, tempat
ibadah, ruang kesenian, dan peralatan olahraga. Sarana pembelajaran meliputi
buku pelajaran, buku bacaan, alat dan fasilitas laboratorium sekolah dan
berbagai media pengajaran yang lain. Lengkapnya sarana dan prasarana
pembelajaran merupakan kondisi pembelajaran yang baik.
Hal
ini tidak berarti bahwa lengkapnya sarana dan prasarana menentukan jaminan
melakukan proses pembelajaran yang baik. Justru disinilah muncul bagaimana
mengolah sarana dan prasaranapembelajaran sehingga tersenggara proses belajar
yang berhasil dengan baik. Sarana tersebut terkadang kurang memadahi sehingga
kegiatan belajar menjadi terganggu.Dalam hal ini perlu ada suatu perbaikan
prasarana tersebut sehingga kegiatan belajar menjadi kondusif, selain itu guru
harus lebih kreatif bila sarana tersebut belum terbenahi agar siswa tetap dapat
berkonsentrasi.
d. Kurang
optimal dalam penerapan metode
Guru
harus tepat memilih metode pembelajaran yang digunakan dalam mengajar. Hal ini
dapat dikaji dari karakteristik siswa dalam kelas dan karakteristik metode
pembelajaran yang digunakan.selain itu, didalam pembelajaran IPA/KIMIA, guru
juga lebih baik jika mengaitkan konsep dengan lingkungan sekitar. Siswa akan
belajar denan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang tekah
diketahui dan dengan kegiatan yang atau peristiwa yang akan terjadi di
sekelilingnya. Pembelajaran ini menekankan pada daya pikir yang tinggi,
transfer ilmu pengetahuan, mengumpulkan dan menganalisis data, memecahkan
masalah-masalah tertentu baik secara individu maupun kelompok.
Dari permasalahan diatas merupakan pengalaman yang pernah saya rasakan pada saya duduk dibangku SMA. Dimana yang dapat saya amati pada pengajaran yang dilakukan oleh guru saya ialah kurang optimal dalam penerapan metode.
D. Cara
Mengatasi
Mengatasi
permasalahan umum tersebut yaitu dengan membuat RPP. Karena RPP ini merupakan
rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP
dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik
dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar. Dimana didalamnya terdiri dari fase
pendahuluan, kegiatan inti dan fase penutup. Dimana pada kegiatan proses
pembelajaran itu dilakukan sesuai dengan model pembelajaran, metode, pendekatan
yang ada di RPP tersebut.