Kamis, 19 April 2018

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN KIMIA : GURU DAN PERBUATAN MENGAJAR

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN KIMIA

GURU DAN PERBUATAN MENGAJAR



   A.    Pengertian Guru

Menurut Shambuan (1997) kosa kata “guru” berasal dari kosa kata yang sama dalam bahasa India yang berarti “orang yang mengajarkan tentang pelepasan dari sengsara.” Guru dalam bahasa Sangsekerta diartikan seseorang yang dihormati, figur yang tidak memiliki cela dan tidak boleh memiliki kesalahan.

Karena guru memegang peranan dalam proses pembelajaran, di mana proses pembelajaran merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan. Dalam proses pembelajaran mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa. Perbuatan guru yang sangat penting adalah memahami dan bisa melaksanakan strategi pembelajaran sesuai dengan materi yang ingin disampaikan. agar sesuatu yang ingin dituju dapat tercapai lebih maksimal.
   B.     Peran Guru
a.      Komunikator
Peran guru ini menyangkut proses penyampaian informasi diantaranya baik kepada dirinya sendiri, kepada siswanya/peserta didik, kepada atasan di lembaga sekolahnya, kepada orang tua murid maupun kepada masyarakat pada umumnya. (KEPENDIDIKAN & NASIONAL. 2008)
Contohnya:
  • Komunikasi pada diri sendiri menyangkut upaya introspeksi agar setiap langkah dan geraknya tidak mengalahi kode etik guru baik sebagai pendidik maupun sebagai pengajar.
  • Komunikasi kepada anak didik merupakan peran yang sangat strategis, karena sepandai apapun seseorang manakala dia tidak mampu berkomunikasi dengan baik pada anak didiknya maka proses belajar mengajar akan kurang optimal.
  • Komunikasi yang edukatif pada anak didik akan mampu menciptakan hubungan yang harmonis.
  • adapun komunikasi kepada atasan, orang tua, dan masyarakat adalah sebagai pertanggungjawaban moral.
b.   Fasilitator
Guru hendaknya mampu mengusahakan sumber belajar yang kiranya berguna serta dapat menunjang percapaian tujuan dan proses belajar mengajar, baik yang berupa nara sumber, buku teks, majalah, ataupun surat kabar. Guru juga harus mengetahui betul potensi anak didik. Karena berangkat dari potensi itulah guru menyiapkan strategi PBM yang sinerjik dengan potensi anak didik. Faktor „the how‟ memegang peranan penting dalam upaya mengembangkan potensi anak didik, hal ini dimaksudkan untuk mempersiapkan diri menjadi manusia seutuhnya yang akan mampu membangun dirinya dan masyarakat lingkungannya. (KEPENDIDIKAN & NASIONAL. 2008)
Contohnya:
Bisa menjawab jika ada kekeliruan dalam suatu materi, dan bisa menyediakan hal-hal yang harus ada sesuai materi yang disampaikan.
c.    Mediator
Guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup mengenai media pendidikan, karena media pendidikan merupakan alat komunikasi guna lebih mengefektifkan proses belajar mengajar. Dengan demikian jelaslah bahwa media pendidikan merupakan alat yang sangat diperlukan yang bersifat melengkapi dan merupakan bagian integral demi berhasilnya proses pendidikan dan pengajaran di sekolah.
Guru tidak cukup hanya memiliki pengetahuan tentang media pendidikan, tetapi juga harus memiliki keterampilan memilih dan menggunakan, serta mengusahakan media itu dengan baik. Memilih dan menggunakan media pendidikan harus sesuai dengan tujuan, materi, metoda, evaluasi, dan kemampuan guru serta minat dan kemampuan siswa. Sebagai mediator guru juga menjadi perantara dalam hubungan antar manusia. Untuk itu, guru harus terampil mempergunakan pengetahuan tentang bagaimana orang berinteraksi dan berkomunikasi. (KEPENDIDIKAN & NASIONAL. 2008)
Contohnya  :
Ketika ada pertanyaan guru dapat memberikan jawaban sesuai pertanyaan dengan bahasa yang sebisa mungkin siswa mengerti.
d.      Motivator
Peran Guru dalam memotivator atau Membangun Kesadaran, masalah, menarik kesimpulan, menuliskan, mengekspresikan apa yang diketahuinya, ini akan membuat siswa menjadi seorang pembelajar yang luar biasa. Seperti yang dirumuskan Ki Hajar Dewantoro peran guru dalam mendidik di sekolah sebagai berikut ingngarso sung tulodo, di depan memberi teladan, ing madyo mangun karso, di tengah membangun kreativitas dan tut wuri handayani, di belakang memberi semangat. Hingga sekarang peran ini masih aktual dan menjadi dasar dari semua peran yang dijalankan seorang guru dalam mendidik, bagaimana guru berperan sebagai motivator dalam proses pembelajaran, dengan pendekatan/metode apapun yang digunakan oleh guru.(Murwani. 2006)
Contohnya: memberikan nasihat-nasihat pada kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan pelajaran, seperti memberi penjelsasan mengenai pentingnya zat kimia.
e.    Evaluator
Guru sebaiknya dapat menjadi evaluator yang baik. Penilaian dilakukan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai atau tidak, apakah materi yang diajarkan sudah dikuasai atau belum oleh siswa, dan apakah metode yang digunakan sudah cukup tepat. Penilaian perlu dilakukan, karena melalui penilaian guru dapat mengetahui keberhasilan pencapaian tujuan, penguasaan siswa terhadap pelajaran, serta ketepatan metode mengajar. Dengan menelaah pencapaian tujuan mengajar, guru dapat mengetahui apakah proses belajar mengajar yang dilakukan cukup efektif, cukup memberikan hasil yang baik dan memuaskan, atau sebaliknya. Kiranya jelasl bahwa guru harus mampu dan terampil dalam melaksanakan penilaian, karena dalam penilaian, guru dapat mengetahui prestasi yang dicapai oleh siswa setelah ia mengikuti proses belajar mengajar.
Contohnya  :
Di akhir pembelajaran guru mengevaluasi serta memberikan penilaian yang objektif. (KEPENDIDIKAN & NASIONAL. 2008)
   C.     Permasalahan Pembelajaran Kimia pada Guru dan Perbuatan Mengajar
penyebab lainnya itu juga terletak pada guru karena guru kurang bisa menjelaskan materi yang diajarkan. Di samping itu, guru kurang memberikan contoh-contoh konkrit tentang reaksi-reaksi yang ada di lingkungan sekitar dan sering dijumpai siswa. Oleh sebab itu, diperlukan suatu usaha untuk mengoptimalkan pembelajaran kimia di kelas dengan menerapkan pendekatan dan metode yang tepat. Itulah salah satu kendala yang dihadapi oleh guru.
Berkaitan dengan belajar dan pembelajaran kimia yang ada pada saat ini, permasalahan yang dihadapi oleh guru dikelompokkan menjadi dua yaitu permasalahan umum dan permasalahan khusus.
   1.      Permasalahan Umum
Permasalahan umum merupakan permasalahan yang sering ditemukan oleh setiap guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Adapun yang termasuk permasalahan umum dalam mengajarkan IPA/KIMIA antara lain:
      a.       Menyiapkan Bahan Pelajaran
Guru harus memikirkan bahan-bahan yang topiknya tertera dalam silabi berkaitan dengan kebutuhan anak didik pada usia dan dalam lingkungan tertentu. Minat anak didik akan bangkit bila suatu bahan diajarkan sesuai dengan kebutuhan anak didik. Berkenaan dengan persiapan bahan ajar ini, secara umum masalah yang dimaksud meliputi cara penentuan jenis materi, kedalaman, ruang lingkup, urutan penyajian, perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran.
Masalah lain yang berkenaan dengan bahan ajar adalah memilih sumber di mana bahan ajar itu didapatkan. Ada kecenderungan sumber bahan ajar dititikberatkan pada buku.Padahal banyak sumber bahan ajar selain buku yang dapat digunakan.Buku pun tidak harus satu macam dan tidak harus sering berganti seperti terjadi selama ini.Berbagai buku dapat dipilih sebagai sumber bahan ajar. Termasuk masalah yang sering dihadapi guru berkenaan dengan bahan ajar adalah guru memberikan bahan ajar atau materi pembelajaran terlalu luas atau terlalu sedikit, terlalu mendalam atau terlalu dangkal, urutan penyajian yang tidak tepat, dan jenis materi bahan ajar yang tidak sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai oleh siswa.
Sehubungan dengan itu, perlu disusun rambu-rambu pemilihan dan pemanfaatan bahan ajar untuk membantu guru agar mampu memilih materi pembelajaran atau bahan ajar dan memanfaatkannya dengan tepat.Rambu-rambu dimaksud antara lain berisikan konsep dan prinsip pemilihan materi pembelajaran, penentuan cakupan, urutan, kriteria dan langkah-langkah pemilihan, perlakuan/pemanfaatan, serta sumber materi pembelajaran.
     b.      Metode Mengajar
Dalam kegiatan belajar mengajar, guru tidak harus terpaku dengan menggunakan satu metode, tetapi guru sebaiknya menggunakan metode yang bervariasi agar jalannya pengajaran tidak membosankan tetapi menarik perhatian anak didik.Solusi dari permasalahan ini yaitu guru hendaknya lebih selektif terhadap penggunaan metode pembelajaran.
      c.       Kegiatan Mengajar
Guru sebaiknya memperhatikan perbedaan individual anak didik, yaitu pada aspek biologis, intelektual dan psikologis. Kerangka berfikir demikian dimaksudkan agar guru mudah dalam melakukan pendekatan kepada setiap anak didik secara individual.Setiap siswa didalam kelas memiliki karakter yang berbeda-beda pada setiap individunya. Banyaknya perbedaan ini tentunya akan berpengaruh terhadap kondisi siswa dalam belajar. Salah satu usaha agar pembelajaran tercapai dari permasalahan ini adalah dengan pembentukan kelompok-kelompok belajar didalam kelas. Hal ini bertujuan supaya tiap individu di dalam kelas menjadi subjek utama dan dapat saling berinteraksi dengan semua individu sehingga merasa belajar lebih nyaman.
    2.      Permasalahan Khusus
Permasalahan khusus dalam mengajarkan IPA atau materi Kimia adalah permasalahan-permasalahan yang timbul saat mengajarkan IPA/KIMIA tetapi tidak semua guru mengalami kesulitan tersebut.Adapun permasahan khusus dalam mengajarkan IPA/KIMIA adalah sebagai berikut.
        a.       Guru tidak siap mengajar
Dalam hal ini berarti, guru kurang memahami konsep materi yang diajarkan.Sebelum mengajar, guru sebaiknya menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan untuk mengajar, mempersiapkan materi pelajaran dengan baik untuk diajarkan kepada siswa. Kesiapan guru dalam mengajar diperlukan agar siswa memperoleh materi dari guru secara runtut, dengan demikian siswa akan mudah menerima materi dari guru dan mempelajarinya.
      b.      Guru kesulitan dalam membangkitkan minat belajar siswa.
Solusi dalam mengatasi masalah ini yaitu berawal dari minat guru sendiri. Guru harus mampu membuat ide-ide kreatif yang menarik sehingga siswa menjadi tertarik dan minat belajarnya meningkat kemampuan dan keterbatasan guru/ sekolah dalam memberikan teori disebabkan alat-alat untuk mengadakan percobaan tidak lengkap.
      c.       Sarana dan prasarana yang mendukung terciptanya suasana yang kondusif di dalam belajar akan mempengaruhi proses belajar siswa.
Prasarana pembelajaran meliputi sarana olahraga, gedung sekolah ruang belajar, tempat ibadah, ruang kesenian, dan peralatan olahraga. Sarana pembelajaran meliputi buku pelajaran, buku bacaan, alat dan fasilitas laboratorium sekolah dan berbagai media pengajaran yang lain. Lengkapnya sarana dan prasarana pembelajaran merupakan kondisi pembelajaran yang baik.
Hal ini tidak berarti bahwa lengkapnya sarana dan prasarana menentukan jaminan melakukan proses pembelajaran yang baik. Justru disinilah muncul bagaimana mengolah sarana dan prasaranapembelajaran sehingga tersenggara proses belajar yang berhasil dengan baik. Sarana tersebut terkadang kurang memadahi sehingga kegiatan belajar menjadi terganggu.Dalam hal ini perlu ada suatu perbaikan prasarana tersebut sehingga kegiatan belajar menjadi kondusif, selain itu guru harus lebih kreatif bila sarana tersebut belum terbenahi agar siswa tetap dapat berkonsentrasi.
      d.      Kurang optimal dalam penerapan metode
Guru harus tepat memilih metode pembelajaran yang digunakan dalam mengajar. Hal ini dapat dikaji dari karakteristik siswa dalam kelas dan karakteristik metode pembelajaran yang digunakan.selain itu, didalam pembelajaran IPA/KIMIA, guru juga lebih baik jika mengaitkan konsep dengan lingkungan sekitar. Siswa akan belajar denan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang tekah diketahui dan dengan kegiatan yang atau peristiwa yang akan terjadi di sekelilingnya. Pembelajaran ini menekankan pada daya pikir yang tinggi, transfer ilmu pengetahuan, mengumpulkan dan menganalisis data, memecahkan masalah-masalah tertentu baik secara individu maupun kelompok.
Dari permasalahan diatas merupakan pengalaman yang pernah saya rasakan pada saya duduk dibangku SMA. Dimana yang dapat saya amati pada pengajaran yang dilakukan oleh guru saya ialah kurang optimal dalam penerapan metode.

     D.    Cara Mengatasi
Mengatasi permasalahan umum tersebut yaitu dengan membuat RPP. Karena RPP ini merupakan rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar. Dimana didalamnya terdiri dari fase pendahuluan, kegiatan inti dan fase penutup. Dimana pada kegiatan proses pembelajaran itu dilakukan sesuai dengan model pembelajaran, metode, pendekatan yang ada di RPP tersebut.